Welcome

Welcome to the Namiroh Murinda Sari's Blog
Gaya semau gw....!!!!

Jumat, 24 Desember 2010

ASKEP CA ESOFAGUS

ASKEP CA OESOFAGUS

A. Definisi.
Kanker oesofagus merupakan keganasan yang terjadi pada oesofagus. Keganasan yang paling sering menyerang adalah jenis karsinoma epidermoid. Sedangkan jenis lainnya leomiosarkoma, fibrosarkoma, atau melanoma malignum tapi sangat jarang terjadi.

B. Etiologi
Timbulnya karsinoma esofagus dihubungkan dengan faktor diit. Minum alkohol, dan merokok. Diduga juga berhubungan dengan penyakit sebelumnya. Esofagitis menahun karena rangsangan ahan kimia dan akalasia merupakan faktor resiko tinggi.

C. Patofisiologi dan Manifestasi Klinik
Biasanya pasien mengalami lesi ulserasi esofagus yng luas sebelum gejala timbul. Malignasi, biasanya sel squamosa tipe epidermoid, menyebar dibawah mukosa esofagus , atau dapat menyebar langsung kedalamnya, melalui dan diatas lapisan otot ke limfatik. Pada tahap lanjut, obstruksi esofagus terliat, dengan kemungkinan peforasi mediastinum dan erosi pembuluh darah besar.
Bila gejala terjadi yang berhubungan dengan kanker esofagus penyakit ini secara umum meluas. Gejala termasuik disfagia, pada awalnya dengan makanan padat dan akhirnya edngan cairan; perasaan ada massa ditenggorokan; nyeri saat menelan; nyeri substernal atau rasa penuh; dan kemudian regurgutasi makanan yang tidak dicerna disertai bau nafas busuk dan cegukan
Pasien pada awalnya hanya makanan padat yng menyebabkan distres, tetapi dengan berkembangnya penyakit dan obsrtuksi cairan tidak adapat masuk ke lambung. Regurgitasi makanan dan saliva terjadi hemoragi dapt terjadi dan penurunan progresif berat badan dan kekuatan terjdi sebagai akibat kelaparan. Gejala selanjutnya mencakup nyeri substernal, cegukan, kesulitan bernfas dn bau nafas busuk

E. Pemeriksaan Penunjang.
Diagnostik dipastikan dengan esofagogastroduodenosopi (EGD) dengan biopsi dan sikatan. Bronkoskopi biasanya dilakukan pada tumor dengan sepertiga tengah dan atas esofagus, untuk menentukan apakah trakea telah terkena dan untuk membentu dalam menentukan apakah lesi dapat diangkat. Mediastenosskopi digunakan untuk menentukan apakah kanker tellah menyebar ke nodus dan struktur mediastinal lain. Kanker esofagus ujung bawah mungkin berhubungan dengan adenokarsinoma lambung yng meluas ke atas esofagus.

F. Penanganan
Bila kanker tersebut ditemukan pada tahap awal, sasaran pengobaan dapat diarahkan pada pengobatan; namun, kanker sering ditemukan pada tahap akhir, yang membuat paliasi merupakan satu-satunya tujuan yang harus diterima. Pengobatan dapat mencakup pembedahan
Standar penetalaksanaan bedah mencakup reseksi total esofagus dengan pengangkata tumor dan margin luas bebas-tumor dan esofagus dan nodus limfa area. Tumor esofagus torakal bawah lebih mungkin dilakukan pembedahan daripada dilkalisasikan lebih tinggi pada esofagus, dan integritas saluran GI dipertahankandengan menanam esofagus bawah ke dalam lambung.
Reseksi bedah esofagus mempinyai angka mortalitas relatif tingiakibat infeksi, komplikasi paru, dan kebocoran melalui anastomisis. Pada pasca operasi pasien akan dipasang selanbg nasogastrik yang tidak boleh dimanipulasi. Pasien dipertahankan puasa sampai pemeriksan sinar X memastikan bahwa anastomisis aman dan tidak bocor.
Penggunaan terapi radiasi baik sendiri maupun ada hubunganya dengan bedah praoperasi dan pasca operasi, mungkin merupkan pilihan pengobatan. Pengunaan kemoterapi dikombinasi edngan radiasi atau pembedahan juga sedang diteliti. Pengobatan paliatif mungkin perlu mempertahankan sofagus tetap terbuka dan untuk membantu memberi nutrisi dan mengontrol saliva. Paliasi dapat diselesaikan dengandilatasi esofagus , terapi laser, penempatan endoprotesis, radiasi dan kemoterapi. Kaerna metode ideal pengobatan kanker esofagus belum ditemukan, setiap pasien diobati dengan mengunakan rencan operawatan individual.

II. MASALAH KEPERAWATAN DAN KOLABORASI
1. Masalah Keperawatan
a. Ketidaksembangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d masukan nutrisi yang kurang.
b. Nyeri akut b.d agen injuri (faktro fisik).
c. Kerusakan kemampuan menelan b.d penyumbatn mekanis (tumor)
d. Defisit pengetahuan b.d sedikitnya terpapar informasi mengenai kanker oesofagus.
2. Masalah Kolaborasi
a. PK: perdarahan

III. PERENCANAAN KEPERAWATAN
1. Diagnosa no 1
Ketidaksembangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d masukan nutrisi yang kurang.“
a. Tujuan
Setelah dilakukan keperawatan selama 15 hari maka masalah keurangan nutrisi dapat diatasi
b. Kriteria Hasil
NOC:
o Perawat mampe meningkatkan status nutrisi pasiern
o Perawat mampu mengontrol BB pasien.
Client Outcome
o Pasien mengalami peningkatan BB menuju berat yang diharapkan
o BB pasien berada dalam rentang normal
o Mengenal faktor-faktor yang mnyebabkan BB dibawah normal.
o Pasien mampu mengkonsumsi nutrisi yang adekuat
o Pasien mengkonsumsi nutrisi yang adekuat.
o Pasien terebas dari tanda-tanda malnutrisi.
c. Intervensi dan rasionalisasi (N!C)
No Intervensi Rasionalisasi
Manajemen Nutrisi
1 tanyakan kepada klien apakah ia memiliki riwayat elergi terhadap makanan untuk menentukan nutrisi yng tepat untuk pasien
2 beri dukungan kepada pasien untuk mendapatkan intake kaolri yang adekuat sesua dengan tipe tubuh dan pola aktivitasnya. agar terjdi keseimbangan antara kebituhan kalori edngan pemasukan kalori
3 beri pasien makanan yang mengandung tinggi protein, tinggi kalori. untuk meningkatkan BB pasien kearah normal
4 monitor catatan intake intake kandungan nutrisi pada makanan mengukur apakah asien kebutuhan nutrisinya terpenuhi atau tidak.
Manajemen Gangguan Makan
1 Tentukan kemajuan BB harian yang diharapkan bersama klien. dapat menilai keberhasilan dari peningkatan BB.
2 monitor masukan kalori perharinya untuk memastikan apakah pasie mengkonsumsi cukup kalori
3 monitor pasien berkitan dengan makan, penurunan berat badan, dan kenaikan BB. untuk menentukan efektivitas dan keberhasilan terapi yang digunakan.
4 anjurkan pasien untuk mengurangi aktivitasnya sehinga bisa mendukung program kenaikan BB. kalori yang tersimpan bisa diubah sebagai cadangan dalam bentuk peningkatan masa otot.
2. Diagnosa no 2
Nyeri akut b.d agen injuri (faktro fisik).
a. Tujuan
Setelah dilakukan keperawatan selama 15 hari maka masalah nyeri akut dapat diatasi
b. Kriteria Hasil
NOC:
o Perawat mampu menurunkan tingkat nyeri, meningkatkan tingkat kenyamanan, dan mngontrol nyeri.
Client Outcome
o Pasien mampu menggunakan sekala nyeri untuk mengidentifikasi tingkat nyeri saat ini dan menentukan tingkat kenyamanan yang diinginkan.
o Pasien mampu menerangkan bagaimana nyeri yang tidak terukur dapat diatasi.
o Pasien mampu menampilkan ktivitas pemulihan dengan dilaporkannya penerimaan terhadap tingkat nyeri.
o Pasien berada dalam kecukupan mengenai istirahat dan tidurnya
o Pasien mampu mendemonsrasikan menejemen nyeri non farmakologi
c. Intervensi dan rasionalisasi (N!C)
No Intervensi Rasionalisasi
1 tentukan apakah pneyrinya itu saat pengkajian atau tidak . jika ia bantu pasien untukemnurunkkan nyerinya tersebut. intensitas, onset, durasi, dan peningkatan nyeri hendaknya dikaji untukmedpatkan data yang esensial..
2 tnyakan kepada klien mengenai pengalaman nyeri yang pernah ia alami dan metode yang digunakan untuk menurunkanya. beberapa faktor penhambat dapat menghilangkan ekinginan klien untuk melaporkan neyri dan mengunakan obat analgesik.
3 mintalah kepada klien untuk melaporkn lokasi, intensitas dengan mengunakan skala nyeri, dan kualitas nyeri. intensitas, lokasi dan kalitas nyeri hendaknya dilaporkan setelah prosedur tindakan untuk mengetahui keberhasilan treatmen
4. eksplor kebutuhan p[asien dengan obat anlgesik opioid dan non-opioid. intervensi pharmakologi merupakan alat utama sebagai penurun nyeri.
5 ajari pasien metode nonfharmakologi untuk menurunkan nyeri klien digunakaan untuk sebagai suplemen dari metode phmakologik.
6. anjurjkan pasien untuk menggunakan obat analgesik sesua dengan yang dianjurkan. mencegah terjadinya penyalahgunaanobat

KATA PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan.Dalam makalah ini kami membahas “Apa saja yang harus dilakukan perawat untuk meningkatkan kepuasan pasien?” Kepuasan pasien masing-masing pasien berbeda-beda karena perkembangan jaman yang semakin maju, pendidikan yang lebih tinggi, pengalaman juga materi yang berlebih menjadikan semakin banyaknya tuntunan yang diajukan, maka merupakan tantangan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Demikian makalah ini saya buat semoga bermanfaat,

Palembang, Juli 2010

Penyusun

Namiroh Murinda Sari

05 09 286

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………….………………………….. ………i

Daftar Isi…………………………… ………………………………………ii

BAB I

Pendahuluan…………………………………………………………………1

A. Pendahuluan……………………………………………………………..1

B. Rumusan Masalah……………………………………………………….2

C. Tujuan Penelitian………………………………………………………..2

D. Manfaat Penelitian………………………………………………………2

BAB II

Pembahasan…………………………………………………………………3

1. Kualitas Pelayanan Keperawatan………………………………………...3

2. Aspek-Aspek Kualitas Pelayanan Keperawatan…………………………3

3. Tindakan Perawat Untuk Meningkatkan Kepuasan Pasien………..……..4

BAB III

Kesimpulan…………………………………..……………………………...6

Daftar Pustaka……………………………………………………………….7




BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mutu pelayanan rumah sakit berkaitan dengan mutu pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh perawat. Menurut Nurachmah (2001) pelayanan keperawatan di rumah sakit merupakan bagian utama dari pelayanan keperawatan yang diberikan pada pasien, oleh karena itu kualitas pelayanan keperawatan sangat dipengaruhi oleh keefektifan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien sehingga mutu pelayanan keperawatan yang baik diharapkan pasien akan merasa puas sehingga pasien akan kembali ke rumah sakit tersebut jika membutuhkan pelayanan kesehatan. Dalam upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan dalam rumah sakit harus ada tolak ukurnya. Salah satu indikator bahwa mutu asuhan keperawatan adalah kepuasan yang dirasakan oleh pelanggan sebagai jasa pelayanan. Kepuasan pasien sangat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku petugas. Ketrampilan yang diberikan perawat, pemberian info yang jelas pada pasien dan keluarganya, fasilitas rumah sakit, rasa empati yang diberikan oleh perawat pada pasien, penampilan perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan, prosedur yang mudah bagi pasien. Selain itu kepuasan yang mengacu pada penerapan pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan pelayanan kesehatan, keterjangkauanya pelayanan kesehatan, efisien pelayan kesehatan. Sehingga dalam pemberian pelayanan yang baik akan terbentuk kepuasan yang dirasakan oleh pelanggan sebagai pengguna jasa pelayanan, (Azwar 1998).

Kepuasan pasien masing-masing pasien berbeda-beda karena perkembangan jaman yang semakin maju, pendidikan yang lebih tinggi, pengalaman juga materi yang berlebih menjadikan semakin banyaknya tuntunan yang diajukan, maka merupakan tantangan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang bahwa sangat penting bagi pihak RS untuk meningkatkan dan menjaga kepuasan pasien serta perlunya mengetahui kualitas pelayanan perawat di RS. Maka dirumuskan masalah sebagai berikut:

“ Apa saja yang harus dilakukan perawat untuk meningkatkan kepuasan pasien terkait hal tersebut? “

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui seberapa pentingkah kepuasan pasien dan keluarga pasien bagi pihak Rumah Sakit.

2. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui apa saja yang harus dilakukan perawat untuk meningkatkan kepuasan pasien.

D. Manfaat Penelitian

1.Bagi Perawat

Sebagai acuan untuk tetap meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terutama meningkatkan kepuasan pasien.

2.Bagi peneliti

Memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian . Di samping itu untuk bekal mengembangkan penelitian berikutnya.

BAB II

PEMBAHASAN

1.Kualitas Pelayanan Keperawatan

Keperawatan sudah banyak didefinisikan oleh para ahli, dan menurut Herderson (1966, dalam Kozier et al, 1997) menjelaskan keperawatan sebagai kegiatan membantu individu sehat atau sakit dalam melakukan upaya aktivitas untuk membuat individu tersebut sehat atau sembuh dari sakit atau meninggal dengan tenang (jika tidak dapat disembuhkan), atau membantu apa yang seharusnya dilakukan apabila ia mempunyai cukup kekuatan, keinginan, atau pengetahuan. Sedangkan Kelompok Kerja Keperawatan (1992) menyatakan bahwa keperawatan adalah suatu bentuk layanan profesional yang merupakan bagian integral dari layanan kesehatan, berbentuk layanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat, yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Layanan keperawatan diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya kemauan dalam melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri.

Pelayanan Keperawatan yang diberikan kepada pasien menimbulkan adanya interaksi antara perawat dan pasien, sehingga perlu diperhatikan kualitas hubungan antara perawat dan pasien. Hubungan ini dimulai sejak pasien masuk rumah sakit. Kozier et al (1997) menyatakan bahwa hubungan perawat-pasien menjadi inti dalam pemberian asuhan keperawatan, karena keberhasilan penyembuhan dan peningkatan kesehatan pasien sangat dipengaruhi oleh hubungan perawat-pasien. Oleh karena itu metode pemberian asuhan keperawatan harus memfasilitasi efektifnya hubungan tersebut. Konsep yang mendasari hubungan perawat pasien adalah hubungan saling percaya, empati, caring, otonomi, dan mutualitas.

2. Aspek-aspek Kualitas Pelayanan Keperawatan

Menurut Depkes RI (dalam Onny, 1985) telah menetapkan bahwa pelayanan perawatan dikatakan berkualitas baik apabila perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien sesuai dengan aspek-aspek dasar perawatan. Aspek dasar tersebut meliputi aspek penerimaan, perhatian, tanggung jawab, komuniksi dan kerjasama. Selanjutnya masing-masing aspek dijelaskan sebagai berikut:

a. Aspek penerimaan

Aspek ini meliputi sikap perawat yang selalu ramah, periang, selalu tersenyum, menyapa semua pasien. Perawat perlu memiliki minat terhadap orang lain, menerima pasien tanpa membedakan golongan, pangkat, latar belakang sosial ekonomi dan budaya, sehingga pribadi utuh. Agar dapat melakukan pelayanan sesuai aspek penerimaan perawat harus memiliki minat terhadap orang lain dan memiliki wawasan luas.

b.Aspek perhatian

Aspek ini meliputi sikap perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan perlu bersikap sabar, murah hati dalam arti bersedia memberikan bantuan dan pertolongan kepada pasien dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan, memiliki sensitivitas dan peka terhadap setiap perubahan pasien, mau mengerti terhadap kecemasan dan ketakutan pasien.

c. Aspek Komunikasi

Aspek ini meliputi sikap perawat yang harus bisa melakukan komunikasi yang baik dengan pasien, dan keluarga pasien. Adanya komunikasi yang saling berinteraksi antara pasien dengan perawat, dan adanya hubungan yang baik dengan keluarga pasien.
d. Aspek kerjasama

Aspek ini meliputi sikap perawat yang harus mampu melakukan kerjasama yang baik dengan pasien dan keluarga pasien.

e. Aspek tanggung jawab

Aspek ini meliputi sikap perawat yang jujur, tekun dalam tugas, mampu mencurahkan waktu dan perhatian, sportif dalam tugas, konsisten serta tepat dalam bertindak.

3. Tindakan Perawat Untuk Meningkatkan Kepuasan Pasien

Soegiarto (1999) menyebutkan lima aspek yang harus dimiliki Industri jasa pelayanan, yaitu :

1.Cepat, waktu yang digunakan dalam melayani tamu minimal sama dengan batas waktu standar. Merupakan batas waktu kunjung dirumah sakit yang sudah ditentukan waktunya.

2.Tepat, kecepatan tanpa ketepatan dalam bekerja tidak menjamin kepuasan konsumen. Bagaimana perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien yaitu tepat memberikan bantuan dengan keluhan-keluhan dari pasien.

3.Aman, rasa aman meliputi aman secara fisik dan psikis selama pengkonsumsian suatu poduk atau. Dalam memberikan pelayanan jasa yaitu memperhatikan keamanan pasien dan memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada pasien sehingga memberikan rasa aman kepada pasien.

4.Ramah tamah, menghargai dan menghormati konsumen, bahkan pada saat pelanggan menyampaikan keluhan. Perawat selalu ramah dalam menerima keluhan tanpa emosi yang tinggi sehingga pasien akan merasa senang dan menyukai pelayanan dari perawat.

5.Nyaman, rasa nyaman timbul jika seseorang merasa diterima apa adanya. Pasien yang membutuhkan kenyaman baik dari ruang rawat inap maupun situasi dan kondisi yang nyaman sehingga pasien akan merasakan kenyamanan dalam proses penyembuhannya.

BAB III

KESIMPULAN

Kepuasan pasien masing-masing pasien berbeda-beda karena perkembangan jaman yang semakin maju, pendidikan yang lebih tinggi, pengalaman juga materi yang berlebih menjadikan semakin banyaknya tuntunan yang diajukan, maka merupakan tantangan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.

6.Yang harus dilakukan perawat untuk meningkatkan kepuasan pasien, perawat perlu menerapkan lima aspek yaitu : (a) Cepat, dalam melayani pasien perawat harus cepat. (b) Tepat, dalam memberikan pelayan kepada pasien perawat harus tepat dalam menangani keluhan-keluhan pasien. (c) Aman, Memberikan pelayanan jasa yaitu memperhatikan keamanan pasien dan memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada pasien sehingga memberikan rasa aman kepada pasien. (d) Ramah tamah, menghargai dan menghormati pasien, bahkan pada saat pelanggan menyampaikan keluhan. Perawat selalu ramah dalam menerima keluhan tanpa emosi yang tinggi sehingga pasien akan merasa senang dan menyukai pelayanan dari perawat. (f) Nyaman, rasa nyaman timbul jika seseorang merasa diterima apa adanya. Pasien yang membutuhkan kenyaman baik dari ruang rawat inap maupun situasi dan kondisi yang nyaman sehingga pasien akan merasakan kenyamanan dalam proses penyembuhannya.

.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A. (1996). Menuju pelayanan kesehatan yang lebih bermutu. Jakarta : Yayasan

Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia.

Kozier, Erb & Blais. (1997). Profesional nursing practice : concept & perspectives. Third

Edition. California : Addison Wesley Publishing.Inc

DepKesRI (2003), Indonesia sehat 2010. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I

http://klinis.wordpress.com/2007/12/28/kualitas-pelayanan-keperawatan/